Graduation

Udah lama nggak nulis lagi, saya mungkin nggak terlalu rajin dengan dunia tulis menulis blog ini. hehehe…

Tapi, setelah nonton videonya Peter Mckinnon ini, aku jadi ngerti. Setidaknya mulai ngerti, kalau aku harus melakukan semua ini demi diriku sendiri. Pengen nulis buatku lah, atau bikin vlog yang menurutku keren lah, dengan gitu aku nggak akan merasa terbebani.

Aku kepikiran buat jadi penulis blog yang lucu atau keren supaya bisa bikin buku. Niatku aja udah salah, hehehe…

But enough about it, aku mau nyeritain sesuatu soal judul postingan ini.

 

Satu kata yang sebenarnya, buatku, udah kehilangan artinya di dalam pikiranku. Aku dulu ngerasa lulus itu cuman fase yang dilalui pas sekolah, apalagi pas SMP. Abis selesai sekolah, ya lulus. Mau gimanapun juga lulus ya lulus. Tapi pas udah SMA, aku ngerasa kalau aku akhirnya jadi ngejar kelulusan, beberapa ada yang asalnya karena pengaruh suasana UN sih jadi melakukan apapun buat lulus (nggak, aku nggak ikutan yang kayak gitu.) walau toh, pada akhirnya semuanya juga lulus.

Dan akhirnya kita sampai pada saat kuliah. Buat dapetin nilai diatas nilai yang dinilai cukup aja susah, apalagi lulus dari satu perkuliahan ini.

…sori…

ini aku, aku masih kuliah, padahal ini udah tahun ke-5 aku ada disini, dan pagi ini aku udah masuk ke tahun ke-6. Mungkin kalian bakalan ngiranya aku cuman ngeluh aja.

dan, iya, aku ngeluh. Aku mau nulis ini karena aku sendiri nggak tau apa yang harus aku lakukan.

Adikku yang ada di bawahku setahun udah lulus, tadi siang baru aja selesai wisudanya. Dan dia udah dapet job offer setelah dia ngirim CVnya kemana-mana abis sidang skripsinya. I’m really proud of her, good for her actually.

Tapi yang lulus itu adikku, adikku. Aku sebagai kakaknya masih ada di kampus.

Aku cerita dikit soal hubungan kakak-adik kami deh.

aku nggak suka jadi kakak, aku nggak suka dipanggil kakak/kak/mas/abang/bang, atau yang sejenis. Aku sedikit maksa ke adik kelasku atau bawahku buat manggil aku nama aja. cukup Archi, nggak usah pake embel2 kak dan sebagainya. Tapi, kalau dianya nggak nyaman manggil aku kayak gitu, aku nggak bisa maksa.

Dan adikku udah kusuruh nggak manggil pake kakak semenjak kami masih kecil, dan sampe sekarang ya dia manggil aku Archi. Aku bahkan nggak tau kira-kira aku dianggapnya kakak atau sodara sepantaran wkwkwk.

Bagus kalo dia nggak bermasalah, aku harapnya sih gitu.

Biarpun gitu, aku ngerasa kalau aku sebagai kakak semenjak kuliah ini bahkan udah ketinggalan jauh dari adikku. Aku disini cuman bisa survive, sementara dia udah punya workaround. Dia udah ada solusi dan dia udah mendapatkan manfaat dari solusinya itu.

Aku berharap aku bisa nyelesaiin studiku tahun depan. Itu aja, cukup. Nggak usah diperpanjang lagi dengan studi tambahan yang penting studiku selesai. Aku cuman perlu satu ijazah aja untuk bisa puasin semua yang punya harapan ke aku.

Kesannya sedih dan kayak mengasihani diri sendiri ya?

maaf ya

aku bakalan berjuang, aku juga mau nikah dan punya keluarga. punya kerja atau usaha. aku punya sesuatu yang aku ahli atau seenggaknya, aku bisa jadi jack of all trades.

it’s better than becoming a master of one.

 

Advertisements

Sheru = Lion

Sewaktu nonton TV, segmen berita pas itu ngeliput film yang judulnya “LION”. Liat dari judulnya, nggak tentu sih ini film tentang apa. Yang aku inget, aku tertarik nonton sinopsis itu karena ada Dev Patel, aktor keturunan India yang terakhir liat cuman pas di Chappie. Ceritanya drama, soal anak india yang diadopsi sama keluarga dari Australia kemudian pas udah gede, dia nyoba nyari rumahnya yang asli.

Premisnya nggak meyakinkan buat seleraku, tapi aku malah tertarik buat nonton itu.

Akhirnya setelah beberapa lama ada di koleksi filmku (satu-satunya film drama yang ada disitu, ya, Chef bagiku genrenya food porn), aku nyelesaiin nonton. Dan dampak yang aku rasain cukup…menyakitkan.

Continue reading “Sheru = Lion”

Watch Dogs 2 Review : Hipsters, Computer, Conspiracy

Citizens of the world, welcome…

 

Semenjak laptopku balik dari tempat servisan karena mainboard yang bermasalah, aku berusaha untuk keep up sama semua game yang udah rilis. Yang bener-bener ketinggalan banyak itu masih ada banyak tapi untungnya hari ini udah selesai satu.

Yang udah aku selesaiin itu game action terbaru Ubisoft tahun 2016 yang ditunggu-tunggu semenjak kemunculannya di bulan Juli.

Oke, let’s start…

Continue reading “Watch Dogs 2 Review : Hipsters, Computer, Conspiracy”

Power Rangers – Cukup Jadi Legacy Saja

Sebelum rilis aja, film Power Rangers udah langsung jadi omongan. Banyak orang kurang setuju dengan pemilihan desain kostumnya yang lebih mirip Iron Man dan Transformers digabung dibandingkan pake kostum berarmor yang lebih mirip serialnya kayak di film Mighty Morphin’ Power Rangers the Movie. Tapi beberapa lama kemudian, banyak yang terbiasa dengan kostum ini, tapi apa itu juga bisa bikin orang-orang jadi suka dengan film ini?

Continue reading “Power Rangers – Cukup Jadi Legacy Saja”

Ngeri-ngerian sambil guyon-guyonan di acara Daisuki Japan

Halo semuanya,

Mau berceritera ini saya mengenai acara daripadanya ialah (paan sih) Japan Culture Daisuki.

Eh itu mah nama yang bikin acaranya deng.

Nama acaranya itu Daisuki Japan 7 : Wanderlust! (iya, ada tanda serunya kok)

Loh kok udah yang ketujuh aja? tanya anda-anda sekalian yang nggak pernah datang.

Ini adalah rentetan acara kawakan JCD tiap tahunnya yang diadakan di Malang. Bilangnya emang tiap tahun, tapi ada pengecualian. Soalnya kalo dibilang tiap tahun, harusnya ini acaranya yang ke 6, bukan begitu?

Daisuki Japan 1, 2, dan 3 diadainnya numpuk di tahun. DaiJap 1 diadain di SMAN 9 Malang tanggal 20 Januari 2012 (iya soalnya samaan sama tanggal ulang tahun hehehe…) DaiJap 2 diadain di akhir tahun 2012 dan DaiJap 3 diadain di pertengahan tahun 2013. Daijap 4 diadain di akhir tahun 2013 dan semenjak itu, Daisuki Japan diadakan lebih matang lagi dengan acuan setahun sekali.


Oke, karena udah selesai jelasin Daisuki Japan secara keseluruhan, sekarang kita mulai masuk ke acara utamanya.

Continue reading “Ngeri-ngerian sambil guyon-guyonan di acara Daisuki Japan”

The Lego Batman Movie : Batman + Lego = WIN.

Lego Batman itu Batman, tapi konyol. Nggak perlu ngerti Batman itu kayak gimana sifatnya dan perawakannya karena bisa dipastiin Batman di film ini beda sama Batman di film lain. Apalagi Batman di filmnya Nolan.

The Lego Batman Movie ini nunjukkin kekonyolan yang dilanjutin The Lego Movie. Dan konyolnya brilian. Dari awal ada logo aja udah kayak masuk ke cerita.

Continue reading “The Lego Batman Movie : Batman + Lego = WIN.”